Hitam Putih

Seandainya dunia ini semudah membedakan hitam dan putih, tentu akan mudah mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Sayang, sejak saya duduk di bangku perkuliahan, saya mulai diharuskan berpikir tidak lagi hitam dan putih, tetapi juga abu-abu. Saya mulai dibiasakan melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang, dari berbagai macam teori, dan dari berbagai macam persepsi.

Sampai saat itu, saya masih belajar membedakan hitam, putih, dan abu-abu ini. Tetapi begitu saya dihadapkan dengan permasalahan yang saya berada di dalamnya, betapa tidak mudahnya berpikir dalam frame abu-abu, saya tetap melihatnya sebagai hitam dan putih, atau setidaknya dalam persepsi saya sendiri. Daerah abu-abu? saya bersusah payah mencari celah ke daerah itu. Karena celah abu-abu itu pertanda saya dapat merasakan apa yang juga di rasakanΒ  oleh si putih maupun si hitam. Berempati.

Tetapi harus saya akui, daripada berempati, terkadang saya malah mencari alasan dengan mengatakan bahwa itu adalah karmanya! Agar daerah abu-abu yang telah susah payah saya bentuk itu kembali ke warna hitam. Buruk memang, tapi manusiawi. Tak semua orang langsung berhasil membangun daerah abu-abu dan dapat bertenggangrasa dan berempati. Kedua hal ini dibangun dan dilatih Itulah yang sedang saya coba saat ini. Berlatih melihat dunia tidak hanya dari segi hitam dan putih, tetapi juga abu-abu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s